Banyak pasangan Tionghoa yang baru pertama kali mempersiapkan Sangjit merasa kebingungan karena panduan yang beredar sering mencampuradukkan prosesi ini dengan lamaran biasa. Sangjit punya alur, aturan balas nampan, dan teknis pengembalian yang perlu dipahami kedua keluarga sebelum hari H tiba. Artikel ini menjelaskan setiap tahapan secara runtut, termasuk variasi yang mungkin berbeda tergantung dialek dan kebiasaan keluargamu.
Sangjit Adalah Prosesi Apa dalam Pernikahan Tionghoa?
Sangjit adalah prosesi pemberian seserahan dari keluarga calon mempelai pria kepada keluarga calon mempelai wanita dalam rangkaian pernikahan Tionghoa. Istilah ini berasal dari bahasa Hokkien 送日頭 (sàng-ji̍t-thâu), yang berkaitan dengan penyampaian hari atau tanggal pernikahan kepada keluarga pihak wanita.
Kajian semiotik terhadap prosesi ini menemukan bahwa setiap perlengkapan yang dibawa membawa simbol tersendiri: tanggung jawab, rasa terima kasih, kesehatan, kemakmuran, keharmonisan, panjang umur, hingga harapan akan keturunan. Ini bukan sekadar tukar-menukar barang. Ini pernyataan niat dan doa dari satu keluarga kepada keluarga lain.
Perbedaan Sangjit, Tingjing, dan Lamaran
Kebingungan istilah ini sangat umum, dan wajar. Dalam pemetaan prosesi pranikah yang digunakan di Indonesia, ada tiga tahapan yang berbeda:
| Istilah | Padanan | Keterangan |
|---|---|---|
| Dingqin / Tingjing | Lamaran | Prosesi yang menandai niat melamar secara resmi |
| Dinghun | Pertunangan | Pengikatan resmi sebelum pernikahan |
| Songri / Sangjit | Seserahan | Penyerahan baki hantaran dari pihak pria ke pihak wanita |
Prosesi Tingjing bisa ditandai dengan pemasangan kalung kepada calon mempelai wanita, sedangkan Sangjit berfokus pada penyerahan baki seserahan yang lebih lengkap. Kalau kamu masih ingin memahami lebih jauh soal perbedaan tunangan dan lamaran, ada penjelasan tersendiri yang bisa membantu menjernihkan istilah-istilah ini sebelum keluarga berdiskusi.
Kapan dan Di Mana Sangjit Dilaksanakan?
Sangjit dilaksanakan setelah lamaran dan sebelum hari pernikahan. Sumber Indonesia menyebut Sangjit lazim diselenggarakan sekitar satu bulan hingga satu minggu sebelum pernikahan, meski tidak ada jarak waktu yang berlaku untuk semua keluarga. Waktu terbaik tetap hasil kesepakatan kedua pihak, disesuaikan dengan kepercayaan serta kebiasaan leluhur masing-masing.
Secara tradisional, Sangjit berlangsung di rumah calon pengantin wanita. Restoran pun bisa dijadikan lokasi, dengan catatan tempat itu diperlakukan sebagai ruang pihak wanita yang menjamu rombongan pria.
Hal yang Harus Disepakati Kedua Keluarga Sebelum Sangjit
Salah satu alasan Sangjit bisa menjadi sumber miskomunikasi adalah karena banyak detailnya bergantung pada tradisi keluarga masing-masing, bukan aturan tunggal yang berlaku universal. Sebelum hari H, ada beberapa hal yang perlu dibicarakan bersama:
- Jumlah dan isi nampan, termasuk apakah ada barang yang digantikan karena alasan agama atau ketersediaan
- Nominal uang susu dan uang pesta, beserta pola penerimaan dan pengembaliannya
- Status pembawa nampan: beberapa keluarga memilih yang belum menikah, yang lain memilih yang sudah menikah dan rumah tangganya rukun
- Apakah ada prosesi lain yang digabungkan, seperti lamaran atau pertunangan dalam satu acara yang sama
Membicarakan semua ini lebih awal jauh lebih baik daripada mengasumsikan salah satu pihak mengikuti tradisi yang sama.
Urutan Prosesi Sangjit dari Penyambutan hingga Penutupan
Secara umum, alur Sangjit berjalan seperti ini:
- Penyambutan rombongan pria oleh keluarga wanita di lokasi acara
- Penyerahan baki seserahan satu per satu dari rombongan pria kepada keluarga wanita
- Pemilahan isi nampan oleh keluarga wanita untuk menentukan mana yang disimpan dan mana yang dikembalikan
- Ramah tamah atau makan bersama sebagai bagian dari pertemuan dua keluarga
- Pengembalian sebagian hantaran kepada rombongan pria sebelum mereka berpamitan
Rombongan keluarga pria biasanya dipimpin anggota keluarga yang dituakan. Sebelum pulang, pembawa seserahan dapat diberi angpao sebagai doa agar mereka segera memperoleh jodoh.
Berapa Jumlah Nampan Sangjit yang Tepat?
Penelitian di Semarang menemukan bahwa jumlah baki harus genap, sementara jumlah barang di dalam baki tidak selalu harus genap dalam praktik yang diteliti. Angka yang paling sering digunakan adalah 6, 8, atau 12. Angka 4 umumnya dihindari karena bunyinya diasosiasikan dengan kata kematian dalam bahasa Tionghoa.
Angka-angka ini adalah kebiasaan simbolis, bukan ketentuan yang berlaku sama untuk semua keluarga. Beberapa panduan populer mensyaratkan seluruh barang berjumlah genap, tetapi praktik nyata di lapangan bisa berbeda tergantung dialek dan kesepakatan keluarga.
Isi Nampan Sangjit dan Makna Setiap Barang
Berikut daftar seserahan yang ditemukan dalam penelitian Sangjit di Semarang, beserta maknanya:
| Barang | Makna / Fungsi |
|---|---|
| Angpao | Pemberian uang sebagai simbol keberuntungan |
| Uang pesta | Kontribusi untuk biaya pernikahan |
| Perhiasan (kalung, gelang, anting, liontin) | Simbol keberuntungan dan kebahagiaan; emas atau logam mulia lazim digunakan |
| Pakaian, tas, atau sepatu | Lambang kesiapan calon suami memenuhi kebutuhan sandang pasangan |
| Kosmetik | Bagian dari kelengkapan perawatan calon pengantin wanita |
| Kudapan manis | Simbol kemanisan dan keharmonisan |
| Buah (apel, jeruk) | Lambang kedamaian, kesejahteraan, dan rezeki |
| Makanan kaleng | Bisa menggantikan kaki babi; contohnya kaki babi kaleng, kacang polong, atau longan kaleng |
| Dua pasang lilin merah bermotif naga dan phoenix | Simbol perlindungan |
| Dua botol anggur merah | Bagian dari seserahan tradisional |
Perlu dicatat bahwa isi khas satu dialek tidak otomatis berlaku bagi kelompok lain. Kaki babi dan permen beras, misalnya, merupakan contoh hadiah khas dalam tradisi Hokkien, dan belum tentu relevan bagi keluarga Kanton, Hakka, atau Tiochiu.
Untuk perbandingan dengan seserahan lamaran pada umumnya, kamu bisa melihat panduan isi seserahan lamaran yang membahas fungsi barang dan perencanaan biayanya secara lebih menyeluruh.
Uang Susu dan Uang Pesta: Fungsi serta Cara Menentukannya
Dua jenis uang dalam Sangjit punya fungsi yang berbeda dan perlu dipahami terpisah.
Uang susu diberikan sebagai ungkapan terima kasih kepada orang tua calon mempelai wanita karena telah merawat dan membesarkan putrinya. Uang ini lazim diterima seluruhnya oleh keluarga wanita.
Uang pesta adalah kontribusi dari pihak pria untuk biaya pernikahan. Sebagian bisa diambil keluarga wanita, sisanya dikembalikan kepada keluarga pria, sesuai kesepakatan.
Tidak ada nominal universal untuk keduanya. Besaran yang wajar perlu dibicarakan antarkeluarga dan disesuaikan dengan kemampuan pihak pria. Pembicaraan ini sebaiknya dilakukan jauh sebelum hari Sangjit agar tidak ada salah ekspektasi di hari acara.
Aturan Mengambil, Mengembalikan, dan Membalas Isi Nampan
Keluarga wanita umumnya mengembalikan sebagian hadiah kepada keluarga pria. Pengembalian ini tanda penerimaan, rasa terima kasih, dan keinginan berbagi kebahagiaan.
Beberapa pola pengembalian yang umum ditemukan dalam praktik:
- Lilin merah: satu pasang disimpan keluarga wanita, satu pasang dikembalikan kepada keluarga pria
- Uang pesta: sebagian dikembalikan, besarnya sesuai kesepakatan awal
- Minuman: dua botol anggur merah dari pihak pria kadang dibalas dengan dua botol sirop jeruk dari pihak wanita, terutama jika ada pertimbangan agama atau preferensi konsumsi keluarga
Barang balasan untuk calon menantu pria bisa berupa setelan, celana, sepatu, ikat pinggang, dompet, atau angpao pengganti. Praktik “mengembalikan sekitar separuh” adalah kebiasaan umum, bukan rumus yang harus diterapkan identik pada setiap jenis barang.
Siapa yang Membawa dan Menerima Nampan Sangjit?
Rombongan pembawa baki berasal dari keluarga pria, dipimpin anggota yang dituakan. Soal status pembawa baki, ada dua pandangan yang sama-sama ditemukan dalam praktik nyata:
- Sebagian keluarga memilih pembawa baki yang belum menikah
- Sebagian lain memilih yang sudah menikah dan rumah tangganya rukun, agar membawa energi yang baik
Tidak ada aturan seragam di sini. Kedua keluarga perlu sepakat tentang tradisi mana yang diikuti sebelum nama-nama pembawa baki ditentukan.
Cara Menyesuaikan Sangjit Modern Tanpa Mengabaikan Tradisi
Tradisi pernikahan Tionghoa-Indonesia bersifat hibrida: unsur lama bertahan sambil berpadu dengan budaya lokal dan perubahan kehidupan modern. Beberapa pasangan masa kini menggabungkan lamaran, pertunangan, dan seserahan menjadi satu acara Sangjit untuk menyederhanakan rangkaian prosesi. Ini bisa menjadi pilihan yang masuk akal selama kedua keluarga memahami dan menyetujui penggabungan tersebut.
Kalau kamu berencana menggabungkan Sangjit dengan acara lamaran sekaligus, susunan acara lamaran bisa menjadi panduan untuk menyusun rundown hari itu agar tetap runtut.
Yang paling penting untuk diingat: makna di balik setiap barang dan setiap gestur dalam Sangjit tetap relevan, terlepas dari seberapa sederhana atau besar acaranya. Diskusikan apa yang ingin disesuaikan, apa yang ingin dipertahankan, dan pastikan kedua keluarga bicara dari pemahaman yang sama sebelum rombongan pria melangkah masuk.
Foto: Arisa Chattasa di Unsplash