Banyak pasangan Jawa yang sudah mantap menikah tiba-tiba bingung saat orang tua bertanya soal weton. Kamu mungkin sudah mencari kalkulator online, tapi hasilnya malah berbeda-beda di setiap situs. Kebingungan itu wajar, karena hitungan weton jodoh memang punya banyak versi. Artikel ini akan memandu kamu melewati satu versi yang terdokumentasi, langkah demi langkah, tanpa campur aduk rumus.
Apa Itu Hitungan Weton Jodoh?
Weton adalah perpaduan antara hari lahir dan hari pasaran ketika seseorang lahir. Kalender Jawa memadukan siklus tujuh hari (seperti kalender umum) dengan siklus lima hari pasaran, sehingga menghasilkan 35 kombinasi weton yang berulang setiap 35 hari sekali.
Hitungan weton jodoh adalah cara mencocokkan weton dua calon mempelai untuk melihat gambaran rumah tangga yang akan dijalani. Dalam konteks rangkaian adat pernikahan Jawa, petungan ini biasanya dilakukan jauh sebelum prosesi berlangsung, sebagai salah satu pertimbangan awal keluarga.
Kenali Hari, Pasaran, Weton, dan Neptu
Sebelum menghitung, kamu perlu memahami empat istilah dasar:
- Hari adalah hari lahir dalam kalender tujuh hari: Minggu sampai Sabtu.
- Pasaran adalah hari dalam siklus lima hari Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
- Weton adalah gabungan keduanya, misalnya Senin Wage atau Sabtu Pahing.
- Neptu adalah nilai angka yang mewakili setiap hari dan pasaran.
Neptu inilah yang dijumlahkan untuk mendapatkan angka kecocokan.
Tabel Neptu Tujuh Hari dan Lima Pasaran Jawa
Neptu Hari
| Hari | Nilai Neptu |
|---|---|
| Minggu | 5 |
| Senin | 4 |
| Selasa | 3 |
| Rabu | 7 |
| Kamis | 8 |
| Jumat | 6 |
| Sabtu | 9 |
Neptu Pasaran
| Pasaran | Nilai Neptu |
|---|---|
| Legi | 5 |
| Pahing | 9 |
| Pon | 7 |
| Wage | 4 |
| Kliwon | 8 |
Neptu satu weton diperoleh dengan menjumlahkan nilai hari dan pasarannya. Sabtu Kliwon, misalnya, bernilai 9 + 8 = 17. Karena neptu satu orang berkisar dari 7 sampai 18, total neptu dua calon mempelai berkisar dari 14 sampai 36.
Rumus Hitungan Weton Jodoh Delapan Kategori
Artikel ini menggunakan versi delapan kategori yang terdokumentasi dalam penelitian di Desa Selakambang. Versi ini penting disebut secara eksplisit karena tabel di berbagai situs populer sering berbeda, bahkan saling bertentangan.
Rumusnya sederhana: jumlahkan neptu weton orang pertama dengan neptu weton orang kedua, lalu cocokkan totalnya ke tabel delapan kategori: Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi.
Cara Menghitung Weton Jodoh Langkah demi Langkah
- Cari tahu weton masing-masing, yaitu hari dan pasaran saat lahir.
- Lihat nilai neptu hari masing-masing dari tabel di atas.
- Lihat nilai neptu pasaran masing-masing.
- Jumlahkan neptu hari + pasaran untuk setiap orang, sehingga kamu mendapat neptu weton masing-masing.
- Jumlahkan neptu weton orang pertama dan orang kedua.
- Cocokkan total tersebut ke tabel hasil di bawah.
Contoh Perhitungan: Senin Wage dan Sabtu Pahing
Misalnya orang pertama lahir pada Senin Wage dan orang kedua lahir pada Sabtu Pahing.
- Senin Wage: neptu hari 4 + neptu pasaran 4 = 8
- Sabtu Pahing: neptu hari 9 + neptu pasaran 9 = 18
- Total pasangan: 8 + 18 = 26
Angka 26 pada tabel delapan kategori menghasilkan Ratu.
Tabel Hasil Pegat sampai Pesthi Berdasarkan Total Neptu
Pola delapan kategori ini berulang dari total 14 hingga 36. Tabel berikut adalah versi yang terdokumentasi dari penelitian di Desa Selakambang.
| Total Neptu | Hasil | Total Neptu | Hasil | Total Neptu | Hasil |
|---|---|---|---|---|---|
| 14 | Padu | 22 | Padu | 30 | Padu |
| 15 | Sujanan | 23 | Sujanan | 31 | Sujanan |
| 16 | Pesthi | 24 | Pesthi | 32 | Pesthi |
| 17 | Pegat | 25 | Pegat | 33 | Pegat |
| 18 | Ratu | 26 | Ratu | 34 | Ratu |
| 19 | Jodoh | 27 | Jodoh | 35 | Jodoh |
| 20 | Topo | 28 | Topo | 36 | Topo |
| 21 | Tinari | 29 | Tinari |
Arti Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi
- Pegat: rumah tangga yang menghadapi banyak masalah dan risiko perpisahan atau perceraian.
- Ratu: pasangan sangat cocok, harmonis, serta dihargai atau disegani lingkungan sekitar.
- Jodoh: kecocokan yang membuat pasangan mampu menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain.
- Topo: banyak ujian pada awal pernikahan, tetapi keadaan dipercaya dapat membaik setelah pasangan mampu melewatinya.
- Tinari: kemudahan rezeki, kecukupan, kebahagiaan, dan keberuntungan.
- Padu: rumah tangga yang sering mengalami perselisihan, tetapi pertengkarannya tidak selalu berujung pada perceraian.
- Sujanan: dikaitkan dengan pertengkaran dan risiko perselingkuhan, sehingga pasangan diperingatkan untuk berhati-hati.
- Pesthi: kehidupan rumah tangga yang rukun, tenteram, dan tetap harmonis saat menghadapi masalah.
Mengapa Hasil Kalkulator Weton Bisa Berbeda?
Ini pertanyaan yang sering muncul, dan jawabannya bukan soal kalkulator yang salah.
Pakar penanggalan Jawa Mufti Raharjo menyebut adanya metode dengan pembagi 4, 5, 7, atau 8. Sumber lain mendokumentasikan pola sampai pembagi 9. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna bahkan memuat enam jenis petung perjodohan sekaligus. Sebuah penelitian juga mencatat bahwa metode pembagi 4 dan pembagi 5 digunakan di sejumlah komunitas selain tabel delapan kategori ini.
Artinya, perbedaan hasil antara satu kalkulator dan kalkulator lain bukan kesalahan teknis, tapi memang cerminan keragaman tradisi petungan itu sendiri. Praktik weton juga berbeda menurut daerah. Masyarakat Jawa Islam Tengger, misalnya, menggunakan metode yang menjumlahkan nilai kedua mempelai dan hari pernikahan, lalu membaginya dengan tiga.
Karena itu, penting untuk tahu versi mana yang sedang digunakan sebelum membandingkan hasil.
Cara Menyikapi Hasil Weton yang Dianggap Kurang Baik
Dapat hasil Pegat atau Padu? Jangan langsung panik.
Penelitian di Desa Sepande menyimpulkan bahwa hitungan weton kini cenderung dipakai sebagai salah satu pertimbangan bersama bibit, bebet, dan bobot, bukan selalu sebagai alasan mutlak membatalkan pernikahan. Weton diposisikan sebagai tradisi dan bahan refleksi, bukan vonis pasti.
Dari sisi keagamaan, kajian di Desa Tenggulun menilai tradisi penghitungan weton dapat diterima sebagai ‘urf apabila tidak bertentangan dengan syariat, tidak menimbulkan kemudaratan, dan tidak ditempatkan dalam ibadah mahdhah. Suara Muhammadiyah menempatkan persoalan ini dalam ranah akidah dan ikhtiar manusia, sehingga pandangan keagamaan terhadap weton tidak tunggal.
Yang perlu diingat: hasil weton adalah satu lapisan pertimbangan, bukan satu-satunya penentu.
Pertanyaan Umum tentang Hitungan Weton Jodoh
Apakah semua orang Jawa menggunakan tabel yang sama? Tidak. Ada banyak versi petungan dengan rumus berbeda. Artikel ini menggunakan versi delapan kategori yang terdokumentasi dalam penelitian di Desa Selakambang.
Bagaimana kalau kita tidak tahu pasaran saat lahir? Kamu bisa mencarinya lewat konversi tanggal lahir ke kalender Jawa melalui situs atau aplikasi kalender Jawa yang tersedia online.
Apakah ada hitungan selain kecocokan pasangan? Ya. Setelah mengetahui kecocokan weton, banyak keluarga juga menghitung tanggal baik menikah menurut kalender Jawa dan Islam sebagai langkah berikutnya. Kedua hitungan itu berbeda tujuan, jadi tabel yang dipakai pun berbeda.
Apakah hasil weton bisa “diperbaiki”? Beberapa keluarga berkonsultasi dengan sesepuh atau ahli primbon untuk mencari cara mengimbangi hasil yang dianggap kurang baik. Pendekatan ini sangat bergantung pada tradisi keluarga masing-masing.
Setelah kamu memahami hasil hitungan weton, langkah berikutnya biasanya adalah menentukan tanggal pernikahan. Kalau kamu ingin melihat perspektif lain di luar kalender Jawa, panduan memilih tanggal pernikahan bisa jadi referensi tambahan. Gunakan semua pertimbangan ini sebagai alat bantu refleksi, bukan beban yang menghalangi keputusan yang sudah kamu buat bersama pasangan.
Foto: Charlie Han di Unsplash