Konsultasi via WhatsApp

Mau tanya soal apa?

Pilih produknya, biar MinDi langsung siapkan jawaban yang pas.

Masih bingung? Tanya umum saja →
Adat Pernikahan Sasak: Merariq hingga Nyongkolan
Kembali ke Blog

Adat Pernikahan Sasak: Merariq hingga Nyongkolan

Pelajari adat pernikahan Sasak dari Merariq, Sejati, Selabar, Sorong Serah hingga Nyongkolan, lengkap dengan makna, variasi, dan panduan acaranya.

Cari undangan digital pernikahan yang elegan? Lihat Pilihan Tema Undangan

Adat pernikahan Sasak bukan sekadar rangkaian seremoni, melainkan proses yang mempertemukan persetujuan pasangan, hubungan dua keluarga, ketentuan agama, dan tata krama masyarakat. Istilah yang paling dikenal adalah Merariq, tetapi prosesi pernikahan Sasak sebenarnya jauh lebih luas: mulai dari masa pendekatan hingga kunjungan keluarga setelah pesta.

Urutan dan sebutannya dapat berbeda antardesa di Lombok. Karena itu, pasangan sebaiknya menjadikan panduan ini sebagai peta awal, lalu mengonfirmasikannya kepada keluarga, keliang atau kepala lingkungan, tokoh adat, dan penghulu di tempat acara.

Memahami Adat Pernikahan Sasak dan Variasinya

Salah satu urutan yang tercatat dalam penelitian mencakup midang, merariq, besejati atau beselabar, bait wali, akad nikah, bait janji, sorong serah, nyongkolan, lalu bales ones nae. Sumber lain mengelompokkannya menjadi tiga fase besar. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu susunan yang otomatis berlaku untuk seluruh masyarakat Sasak.

Secara praktis, pasangan dapat membagi persiapan menjadi tiga bagian:

  1. Tahap sebelum akad, seperti midang, kesepakatan pasangan, merariq, sejati, selabar, dan bait wali.
  2. Tahap pengesahan dan penyelesaian kesepakatan keluarga, yaitu akad nikah, pembicaraan pisuke, bait janji, serta sorong serah aji krame.
  3. Tahap pengenalan sosial dan penutup, seperti nyongkolan dan bales ones nae.

Sebelum menetapkan tanggal, tanyakan urutan yang berlaku di desa asal kedua keluarga. Catat siapa yang berwenang berbicara dalam setiap pertemuan, perlengkapan apa yang diperlukan, serta apakah ada aturan lokal tentang arak-arakan dan penggunaan jalan.

Midang dan Kesepakatan Kedua Calon Mempelai

Midang dikenal sebagai masa seorang laki-laki mengunjungi perempuan untuk saling mengenal. Pelaksanaannya dapat terikat oleh awig-awig atau aturan lokal mengenai waktu, tempat, dan kepantasan. Dalam konteks masa kini, esensi tahap ini adalah komunikasi yang jujur dan persetujuan kedua calon mempelai.

Persetujuan bebas harus menjadi dasar seluruh proses. Merariq tidak boleh dipakai sebagai pembenaran untuk membawa perempuan tanpa persetujuannya. Penelitian di beberapa wilayah mencatat adanya praktik pemaksaan, sehingga keluarga perlu membedakan adat yang dijalankan berdasarkan kesepakatan dari tindakan yang melanggar kehendak salah satu pihak.

Pasangan sebaiknya menyepakati lebih dahulu:

  • kesiapan menikah dan waktu pelaksanaan;
  • cara menyampaikan rencana kepada keluarga;
  • tempat tinggal setelah menikah;
  • pembagian biaya dan tanggung jawab acara;
  • bentuk prosesi adat yang ingin dipertahankan atau disederhanakan.

Kesepakatan ini membantu mencegah salah paham ketika pembicaraan beralih kepada keluarga besar dan tokoh masyarakat.

Merariq dan Seboq dalam Konteks Adat

Kata merariq dikaitkan dengan kata berari yang berarti berlari. Dalam pemakaian masyarakat, istilah Merariq juga dapat merujuk pada keseluruhan proses perkawinan adat Sasak, bukan hanya satu tindakan pada awal rangkaian.

Setelah pasangan sepakat, calon pengantin perempuan dibawa ke tempat yang telah ditentukan. Tahap penyembunyian sementara ini disebut seboq. Ia biasanya ditempatkan di rumah kerabat atau teman pihak laki-laki, bukan dibiarkan tanpa perlindungan. Keluarga perlu memastikan lokasi aman, pendampingnya jelas, dan komunikasi dengan aparat lingkungan dilakukan sesuai tata cara setempat.

Pemaknaan Merariq sebagai “kawin lari” saja terlalu menyederhanakan tradisi. Yang perlu dipahami adalah jaringan tanggung jawab setelahnya: pihak laki-laki tidak berhenti setelah membawa calon pengantin, tetapi harus segera mengikuti prosedur pemberitahuan, permintaan wali, akad, dan penyelesaian adat.

Sejati, Selabar, dan Bait Wali

Sejati dan selabar kerap dicampuradukkan, padahal fungsinya dapat dibedakan. Sejati merupakan pemberitahuan kepada keliang atau kepala wilayah bahwa seorang perempuan telah dibawa untuk proses perkawinan. Selabar adalah pemberitahuan resmi kepada keluarga perempuan sekaligus pembukaan pembicaraan tentang wali dan urusan adat.

Dalam tradisi nyelabar, pesan sering disampaikan dengan bahasa tidak langsung dan penuh kesantunan. Utusan perlu memahami tata bahasa adat agar maksudnya jelas tanpa menyinggung keluarga. Pada variasi lokal di Paer Lauq, kedatangan utusan dapat ditandai dengan gong kecil.

Bait wali adalah permohonan kepada wali nikah agar bersedia menikahkan calon pengantin perempuan. Tahap ini penting karena perkawinan tetap harus memenuhi ketentuan agama. Supaya prosesnya tertib, pihak keluarga dapat menyiapkan daftar nama wali, penghulu, keliang, tokoh adat, dan perwakilan keluarga beserta jadwal pertemuannya.

Akad Nikah, Pisuke, dan Bait Janji

Akad nikah mengikuti ketentuan agama dan tidak digantikan oleh upacara adat. Pasangan yang ingin menata acaranya dengan rapi dapat menggunakan susunan acara akad nikah dalam Islam sebagai rujukan praktis, kemudian menempatkan prosesi adat pada waktu yang telah disepakati keluarga.

Pisuke adalah pemberian dari pihak laki-laki sebagai bentuk penghargaan kepada orang tua perempuan. Dalam sejumlah kajian, sifatnya dipahami sebagai sukarela dan dibedakan dari mahar. Mahar merupakan bagian dari akad sesuai ketentuan agama, sedangkan pisuke berada dalam ranah kesepakatan sosial dan adat. Nilai serta bentuknya dapat berubah mengikuti kondisi masyarakat modern.

Karena istilah dan harapan keluarga dapat berbeda, tuliskan secara terpisah:

KomponenTujuanPihak yang menyepakati
MaharBagian dari akad nikahCalon mempelai sesuai ketentuan agama
PisukePenghargaan kepada keluarga perempuanKedua keluarga
Aji krameNilai dan perlengkapan dalam penyelesaian adatKeluarga dan pemangku adat

Bait janji, yang juga disebut rebaq pucuk dalam konteks tertentu, menjadi tahap perundingan sebelum Sorong Serah. Gunakan pertemuan ini untuk memastikan hasil pembicaraan dicatat dan dipahami sama oleh semua pihak.

Sorong Serah Aji Krame sebagai Puncak Adat

Sorong Serah Aji Krame dipandang sebagai salah satu puncak prosesi adat. Ia berfungsi sebagai media komunikasi antara dua keluarga dan dapat memperkuat hubungan kekerabatan. Pembayun, yaitu juru bicara dalam prosesi, menggunakan ungkapan tidak langsung serta tata bahasa yang penuh hormat.

Kajian di Puyung menyimpulkan bahwa Sorong Serah tidak bertentangan dengan syariat. Namun, pelaksanaan teknis tetap perlu disesuaikan dengan panduan tokoh agama dan tokoh adat setempat. Urutannya pun tidak selalu sama. Secara umum prosesi ini dilakukan setelah akad, tetapi pada variasi di Kekait dapat ditempatkan sebelum bait wali.

Aji krame dapat dikenal dalam tingkatan 33, 66, dan 100. Anggaran pelaksanaan dipengaruhi kondisi keluarga serta apakah perlengkapan dimiliki atau disewa. Angka tersebut bukan alasan untuk memaksakan kemampuan finansial. Pasangan perlu menanyakan arti tingkat yang digunakan di desanya, daftar benda yang harus tersedia, honor pelaksana, dan pilihan penyederhanaan.

Sebelum membayar perlengkapan atau jasa adat, gunakan checklist sebelum membayar DP vendor agar ruang lingkup layanan, tanggal, biaya tambahan, serta kebijakan pembatalan tercatat jelas.

Nyongkolan dan Gendang Beleq

Nyongkolan adalah arak-arakan yang mengantar atau memperkenalkan pasangan kepada masyarakat dan keluarga perempuan. Iringannya dapat menggunakan rudat, gendang beleq, atau kecimol, bergantung pada kebiasaan setempat. Penelitian di Sukarara menunjukkan bahwa nyongkolan mengandung nilai kearifan lokal, sehingga fungsinya lebih dalam daripada sekadar hiburan jalanan.

Karena menggunakan ruang publik, koordinasi menjadi bagian penting dari penghormatan terhadap masyarakat. Di Lombok Timur, Piagam Gendang Beleq disusun dengan merujuk Peraturan Daerah NTB Nomor 6 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat. Salah satu ketentuan lokal yang diberitakan membatasi jarak arak-arakan gendang beleq hingga 700 meter.

Aturan tersebut bersifat lokal dan tidak boleh dianggap otomatis berlaku di semua wilayah Lombok. Panitia perlu memeriksa ketentuan terbaru di desa atau kabupaten lokasi acara, lalu mengatur:

  • izin dan pemberitahuan kepada aparat setempat;
  • titik awal, rute, jarak, dan waktu arak-arakan;
  • pengamanan persimpangan dan akses warga;
  • jumlah peserta serta kendaraan pendukung;
  • volume musik dan waktu berakhir;
  • rencana cadangan jika hujan atau lalu lintas padat.

Koordinasi yang baik membuat nyongkolan tetap meriah tanpa mengganggu keselamatan dan kenyamanan warga.

Bales Ones Nae sebagai Kunjungan Penutup

Setelah Sorong Serah dan Nyongkolan, keluarga dapat melaksanakan bales ones nae, yang juga dikenal sebagai bejango. Prosesi ini berupa kunjungan kembali dan menjadi penutup rangkaian dalam beberapa komunitas Sasak.

Walaupun tampil lebih sederhana daripada arak-arakan, kunjungan ini penting untuk merawat hubungan kedua keluarga. Pasangan dapat memanfaatkannya untuk menyampaikan terima kasih, memperkenalkan anggota keluarga yang belum sempat hadir, dan memastikan tidak ada urusan adat yang tertinggal.

Tanyakan kepada orang tua apakah kunjungan dilakukan pada hari yang sama, sehari setelah acara, atau pada waktu lain. Pastikan pula siapa yang hadir dan apakah keluarga perlu membawa hidangan atau pemberian tertentu.

Busana dan Tata Rias Pengantin Sasak

Busana pengantin Sasak membawa identitas dan makna simbolis. Perlengkapan laki-laki dapat mencakup sapuq, kain songket, kelambi godek nongkek, dodot, keris, serta selendang umbak. Perlengkapan perempuan dapat mencakup payas, kebaya, tongkak, lempot, dan kereng. Komposisinya dapat berubah menurut wilayah, status prosesi, serta arahan penata busana adat.

Songket dikaitkan dengan kehormatan. Sapuq dapat dimaknai sebagai pertumbuhan setelah menikah, sedangkan sabuk berwarna emas melambangkan keberanian. Pakaian lambung, atasan hitam tanpa lengan, dikenal membawa nilai kesederhanaan dan kearifan lokal.

Saat memilih busana, jangan hanya mengandalkan foto inspirasi. Tanyakan nama setiap elemen, cara pemakaian yang benar, makna motif, kesesuaian untuk prosesi, dan siapa yang berwenang memberi arahan. Lakukan uji pakai untuk memastikan pengantin dapat berjalan nyaman, terutama bila mengikuti nyongkolan.

Menyesuaikan Prosesi Sasak untuk Pernikahan Modern

Pernikahan modern tidak harus menghapus adat, tetapi setiap prosesi perlu dipilih secara sadar. Mulailah dengan pertemuan kecil bersama keluarga inti, tokoh adat, dan tokoh agama. Buat satu dokumen bersama yang memuat urutan acara, penanggung jawab, lokasi, durasi, kebutuhan transportasi, serta anggaran.

Untuk menyatukan akad, prosesi adat, jamuan, dan hiburan, adaptasi contoh susunan acara resepsi pernikahan dengan kebutuhan keluarga. Sisakan jeda perpindahan dan waktu istirahat, terutama bagi pengantin yang mengenakan busana lengkap.

Prioritaskan empat prinsip: persetujuan pasangan, sahnya perkawinan menurut agama dan hukum, penghormatan kepada keluarga serta adat, dan ketertiban publik. Jika biaya terbatas, bicarakan bagian yang esensial dan bagian yang dapat disederhanakan. Jangan menjadikan gengsi sebagai ukuran penghormatan.

Terakhir, informasikan urutan acara kepada tamu melalui undangan digital agar mereka mengetahui waktu akad, resepsi, atau nyongkolan yang relevan. Dengan komunikasi terbuka dan koordinasi sejak awal, adat pernikahan Sasak dapat dijalankan secara bermakna, tertib, serta tetap sesuai dengan kondisi pasangan dan keluarga.


Foto: Maximus Beaumont di Unsplash